Jumat, 14 Maret 2014

Tugas 1-Fungsi Bahasa


I.    Pendahuluan


Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks dari pada yang dapat diperoleh dengan menggunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa merupakan sistem komunikasi yang  mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer (manasuka), yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata. Bahasa mencakup dua bidang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan arti atau makna bunyi dengan sesuatu yang diwakilinya. Pada dasarnya bahasa memiliki fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yaitu sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk berkomunikasi, alat untuk mengadakan integrasi, dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997 :3).


Bahasa merupakan sarana atau alat yang digunakan seseorang untuk mengekspresikan keinginan atau kehendaknya. Suatu hasil pemikiran dan renungan seseorang akan disampaikan  atau ditujukkan ke orang lain dengan menggunakan bahasa.


Contoh : Seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tepat, yaitu kepada ayah dan bundanya.


Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama. Bahasa mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. (Gorys Keraf, 1997 : 4).


Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Sehingga kita sering mendengarkan istilah “ Bahasa Komunikatif”.


Misalnya : Kata Makro hanya dapat dipahami oleh golongan masyarakat tertentu. Besar atau luas mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat. Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka untuk mempelajari dan mengambilnya untuk kemudian dipergunakan berinteraksi dengan orang/bangsa lain.


Sebagai alat adaptasi, maka kita harus menggunakan bahasa yang tepat dalam beradaptasi dengan lingkungan yang kita hadapi. Sebagai kontrol sosial bahasa sangat efektif. Sebagai kontrol sosial bahasa diterapkan sebagai alat penerangan, informasi, maupun pendidikan.


1. Contoh menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar


Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang diucapkan bahasa yang baku.


Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.


Misalkan dalam pertanyaan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang baku Contoh :
  • Apakah kamu ingin menyapu rumah bagian belakang ?
  • Apa yang kamu lakukan tadi?
  • Misalkan ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang siswa
    • Pak guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR?
    • Rino : sudah saya kerjakan pak.
    • Pak guru : baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan.
    • Rino : Terima kasih Pak
Kata yang digunakan sesuai lingkungan sosial
Contoh lain dari pada Undang-undang dasar antara lain :
Undang-undang dasar 1945 pembukaan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perkeadilan.
Dari beberapa kalimat dalam undang-undang tersebut menunjukkan  bahasa yang sangat baku, dan merupakan pemakaian bahasa secara baik dan benar.


Contoh lain dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjil bila dalam tawar -menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti ini.
(1)   Berapakah Ibu mau menjual tauge ini?
(2)   Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Tanah Abang dan berapa ongkosnya?


Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (3) dan (4) berikut akan lebih tepat.
(3)   Berapa nih, Bu, tauge nya?
(4)   Ke Pasar Tanah Abang, Bang. Berapa?

Misalkan perbedaan dari bahasa indonesia yang benar dengan bahasa gaul


Bahasa Indonesia
Bahasa Gaul (Informal)
Aku, Saya
Gue
Kamu
Elo
Di masa depan
Kapan-kapan
Apakah benar ?
Emangnya bener ?
Tidak
Gak
Tidak peduli
Emang gue pikirin !


Dari contoh diatas perbedaan antara bahasa yang baku dan non baku  dapat terlihat dari pengucapan dan dari tata cara penulisannya. Bahasa indonesia baik dan benar merupakan bahasa yang mudah dipahami,  bentuk bahasa baku yang sah agar secara luas masyarakat indonesia berkomunikasi menggunakan bahasa nasional. Contoh pada “Kami, putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, demikianlah bunyi alenia ketiga sumpah pemuda yang telah dirumuskan oleh para pemuda yang kemudian menjadi pendiri bangsa dan negara Indonesia. Bunyi alenia ketiga dalam ikrar sumpah pemuda itu jelas bahwa yang menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia. Kita sebagai bagian bangsa Indonesia sudah selayaknya menjunjung tinggi bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.


Paragraph dibawah ini cuplikan gaya bahasa yang dipakai sesuai dengan EYD dan menggunakan bahasa baku atau bahasa ilmiah bukan kata popular dan bersifa objektif, dengan penyusunan kalimat yang cermat.


Dalam paradigma profesionalisme sekarang ini, ada tidaknya nilai informative dalam jaring komunikasi ternyata berbanding lurus dengan cakap tidaknya kita menulis. Pasalnya, selain harus bisa menerima, kita juga harus mampu memberi. Inilah efek jurnalisme yang kini sudah menyesaki hidup kita. Oleh karena itu, kita pun dituntut dalam hal tulis-menulis demi penyebaran informasi. Namun persoalannya, apakah kita peduli terhadap laras tulis bahasa kita. Sementara itu, yakinilah, tabiat dan tutur kata seseorang menunjukkan asal-usulnya, atau dalam penegasan lain, bahasa yang kacau mencerminkan kekacauan pola pikir pemakainya.


2. Contoh fungsi bahasa sebagai alat komunikasi


- Bahasa merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
- Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami.
- Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi, memiliki tujuan tertentu yaitu agar kita dipahami oleh orang lain. Jadi dalam hal ini respons pendengar atau lawan komunikan yang menjadi perhatian utama kita.
  • Bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan alat untuk merumuskan maksud kita.
  • Dengan komunikasi, kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan, dan ketahui kepada orang lain.
  • Dengan komunikasi, kita dapat mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita dan apa yang telah dicapai oleh orang-orang sejaman kita.
  • Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi melalui lisan (bahasa primer) dan tulisan (bahasa sekunder). Berkomunikasi melalui lisan (dihasilkan oleh alat ucap manusia), yaitu dalam bentuk symbol bunyi, dimana setiap simbol bunyi memiliki ciri khas tersendiri. Suatu simbol  bisa terdengar sama di telinga kita tapi memiliki makna yang sangat jauh berbeda. Misalnya kata ’sarang’ dalam bahasa Korea artinya cinta, sedangkan dalam bahasa  Indonesia artinya kandang atau tempat.
  • Tulisan adalah susunan dari simbol (huruf) yang dirangkai menjadi kata bermakna dan dituliskan. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
  • Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi utama  bahasa adalah bahwa komunikasi ialah penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat. Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Terutama pada penggunaan Fungsi komunikasi pada bahasa asing Sebagai contoh masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran. Jadi bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya dengan satu bahasa melainkan banyak bahasa.
Contohnya :
Misalnya berupa :
-  Alat-alat itu digunakan untuk berkomunikasi misalnya gerak badaniah, alat bunyi-bunyian, kentongan, lukisan, gambar, dsb).


Contohnya :
-  Bunyi tong-tong memberi tanda bahaya
-   Adanya asap menunjukkan bahaya kebakaran
-   Alarm untuk tanda segera berkumpul
-   Bedug untuk tanda segera melakukan sholat
-   Telepon genggam untuk memanggil orang pada jarak jauh
-  Simbol tanda stop untuk pengguna jalan, simbol laki-laki dan perempuan bagi pengguna toilet.
-  Gambar peta yang menunjukkan jalan
-  Suasana gemuruh kentongan dipukul tanda ketika ada bahaya
-  Adanya asap tampak dari kejauhan pertanda kebakaran
-  Bunyi alarm (suasana tanda bahaya gempa bumi/bencana alam) dsb.


Contoh dalam kehidupan sehari-hari
Misalkan seorang satpam perumahan  berjaga-jaga/ronda pada malam hari, pada saat sudah mendekati jam 12.00 malam satpam tersebut membunyikan kentongan yang bertanda bahwa waktu sudah tepat pukul 12.00 malam. Dan timbul timbal balik antara satpam sama orang-orang disekitar perumahan.setiap orang jadi lebih mengerti tanda waktu pergantian tersebut. Jadi, bahasa yang dipakai satpam tersebut berupa kentongan yang memberikan pertanda sesuatu akan terjadi/ sesuatu yang sudah mestinya dilakukan.


Jumat, 22 November 2013

Tugas 2 Softskill-Bahasa Indonesia


MAKALAH BAHASA INDONESIA 2
RESENSI ARTIKEL
KOMPAS, 24 MARET 2012
♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦
“ BANGKITKAN CINTA TANAH AIR YANG MEREDUP “

Disusun Oleh : Lylyk Setyawati
14111186
3KA28
Information System of Gunadarma University 
2013


Kata Pengantar

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan atas kehadirat Allah SWT,  karena atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berisi tentang resensi artikel yang dimuat di koran Kompas pada Sabtu, 24 Maret 2012 dan dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia II di Universitas Gunadarma tahun 2013.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat arahan dan bimbingan dari Bpk. Jono Suroyo selaku dosen dari mata kuliah Bahasa Indonesia II, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materi. Kritik konstruktif dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini. Semoga artikel yang dibahas pada makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembacanya.



Depok, 24 November 2013



                                                                                                                                                                                                                        Lylyk Setyawati



Daftar Isi

Halaman Judul………………………………………………………………………i
Kata Pengantar ……………………………………………………………………..............ii
Daftar Isi ……………………………………………………………………………..iii
BAB 1 Pendahuluan
1.1 . Latar Belakang…………………………………………………………………...1
1.2. Ruang Lingkup……………………………………………………………………1
1.3. Tujuan penulisan……………………………………………………………..……1
BAB 2 Pembahasan
 …………………………………………………………………...............2
BAB 3 Penutup

3.1. Kesimpulan dan Saran……………………………………………………………................3
Daftar Pustaka 
……………………………………………………………………............4


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam sejarah peradaban bangsa, pemuda merupakan aset bangsa yang sangat mahal dan tak ternilai harganya. Kemajuan atau kehancuran bangsa dan Negara banyak tergantung pada kaum mudanya sebagai agent of change (agen perubahan). Pada setiap perkembangan dan pergantian peradaban selalu ada darah muda yang memeloporinya. Namun, pemuda Indonesia dewasa ini telah banyak kehilangan jati dirinya, terutama dalam hal wawasan kebangsaan dan patriotisme (cinta tanah air) Indonesia. Sebenarnya, cinta tanah air dapat ditanamkan sejak dini dalam diri anak. Seorang anak dapat mencintai tanah air melalui film, serta dapat memahami kekayaan Indonesia yang begitu melimpah. Pendidikan dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat yaitu melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Cinta tanah air yaitu mencintai bangsa sendiri. Cinta tanah air perlu ditanamkan pada peserta didik, karena peserta didik sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Agar rasa cinta tanah air terhadap bangsa Indonesia tidak pudar, maka perlu penanaman sejak dini. Dewasa ini, permasalahan akut yang dihadapi pemuda Indonesia meliputi adanya arus materialisme dan hedonisme mengakibatkan redupnya nasionalisme para pemuda sehingga menurunkan rasa persaudaraan dan semakin tajamnya individualism, ketidakmampuan para pemuda dalam menyesuaikan dengan peluang partisipasi politik yang makin terbuka di era reformasi, sehingga menimbulkan anarkhisme, tindak kekerasan, dan liberalism.

1.2. Ruang Lingkup 
Makalah ini membahas tentang hal-hal yang mencakup pentingnya rasa cinta kepada tanah air yang dewasa ini banyak ditinggalkan oleh generasi muda, juga bagaimana cara untuk  membangkitkan jiwa patriot, nasionalisme, dan cinta tanah air generasi muda Indonesia.

1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk membangkitkan semangat cinta kepada tanah air Indonesia, membangkitkan nilai-nilai Patriotisme, mengenal dan Menghargai jasa-jasa para pendiri bangsa, Generasi muda juga dapat mengetahui dan menyadari betapa besar nilai perjuangan Soekarno dan para tokoh lainnya dalam mendirikan dan membangun bangsa ini dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatauan ditangah banyak perbedaan yang ada, baik perbedaan suku, agama, dan bahasa, serta menjadikan perbedaan tersebut sebagai keunikan bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain.


BAB II
Pembahasan Materi


Judul Tulisan                           :  Bangkitkan Cinta Tanah Air yang Meredup
Nama Penulis                          :  Ferry Santoso
Penerbit                                   :  Kompas
No/Tanggal Penerbitan           :  259/Sabtu, 24 Maret 2012
No. Halaman                           :  5
Tema                                       :  Nasionalisme

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang didirikan diatas keanekaragaman suku, agama, budaya, dan  juga kekayaan sumber alamnya. Demikian pula di Provinsi Bangka Belitung yang dikenal dengan kekayaan alam timahnya. Banyak diantara para penduduknya yang bukan merupakan warga Indonesia, salah satunya adalah penduduk asal Tionghoa. Keberadaan warga Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung memiliki sejarah yang panjang. Hal ini dikisahkan dalam film documenter yang tersimpan di Badan Perpustakaan dan Arsip daerah Provinsi Bangka Belitung dan banyak digunakan untuk mengenalkan jasa para pendiri bangsa kepada para pengunjung terutama para siswa.

Keberadaan warga Tionghoa juga terungkap dalam buku berjudul “Timah Bangka dan Lada Mentok”. Buku  itu menceritakan tentang kedatangan ribuan pekerja tambang dari  Tionghoa. Pihak Belanda yang pada saat itu mempunyai pengaruh kuat pada masyarakat Bangka beranggapan bahwa akan mudah memecah kesatuan masyarakat Bangka yang berbeda suku. Namun, pada akhirnya pihak Belanda gagal memecah kesatuan Bangka. Masyarakat Bangka, baik golongan Minoritas (Tionghoa,Cina,Arab) dan Mayoritas (Penduduk Asli) masih memiliki rasa cinta kepada tanah air dan juga memiliki semangat juang untuk menjadi bangsa yang besar. Tingginya nasionalisme dan nilai-nilai patriotis yang dimiliki masyarakat Bangka patut menjadi kebanggan dan contoh yang baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.


BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan & Saran
Sebagai generasi muda bangsa Indonesia, kita harus membangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air yang cenderung meredup. Artikel ini menunjukan betapa kerasnya perjuangan para pendiri bangsa dan kuatnya kecintaan masyarakat terhadap tanah air dan wilayahnya. Ditengah peliknya masalah ekonomi dan politik bangsa ini, semangat akan nilai-nilai nasionalisme harus tetap dijalankan. Hal ini kita lakukan untuk mewariskan jiwa patriot dan rasa cinta tanah air kepada generasi anak cucu pada masa mendatang. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa dan kerja keras para pahlawannya.

Memang, nasionalisme sebagai rujukan untuk membangun jauh lebih sulit diwujudkan. Diperlukan pemikiran yang konstruktif dan kemampuan strategis untuk menggunakan sumberdaya untuk mencapai sasaran-sasaran berjangka panjang sambil menyelesaikan masalah-masalah berjangka pendek, sambil menetralisasi dampak negative dari nasionalisme dan demokrasi sebagai gerakan yang destruktif. Walaupun lebih sulit, namun nasionalisme sebagai rujukan dapat dicapai jika secara bersama-sama generasi muda mulai meningkatkna kecintaannya kepada tumpah darah Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

  • Sitompul, D.TH. ”Kewarganegaraan”, Bahan Perkuliahan Pada Akademi
Imigrasi, Jakarta, 2003;
  • Abstrak.digilib.upi.edu/Direktori/DISERTASI/PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.pdf


                                               Lampiran Gambar