Kamis, 24 November 2011

ISD FOTO SPECIAL 2


"SOSIAL KEMASYARAKATAN"



Di negara kita tercinta ini lumayan banyak sekali orang-orang yang berada dibawah garis kemiskinan, entah apa yang salah dari negara kita tercinta ini. Saat saya sedang berjalan-jalan di sebuah kota, terlintas dibenak saya, begitu beruntungnya saya dibanding mereka yang mempunyai kekurangan di bidang materi. Sebagai kenang-kenangan yang manis untuk saya, maka saya berfotolah pada mereka, yakni pengemis maupun tukang jualan di sepanjang jalan, yang mengais rezeki demi kebutuhan hidupnya.



Kenangan itu semua tak kan pernah saya lupakan begitu saja. Harapan saya semoga pemerintah indonesia memberikan yang terbaik demi warga negaranya, dan tidak ada kesenjangan sosial lagi, semua merata, tidak ada yang miskin, dan tidak ada yang kaya. Yang  kaya bisa membantu yang miskin, dan yang miskin pun menghargai yang kaya dengan ketidak sombongannya. Dengan kata lain, bijaksanalah kita dalam melengkapi di masyarakat. Manusia bukan makhluk individu, namun manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang saling ketergantungan, membutuhkan manusia lain untuk membantunya, dan tidak mungkin bisa sendiri.

Sebenarnya balik lagi ke diri kita masing-masing, bagaimana kita menghormati dan menghargai orang lain, jika kita juga ingin dihormati dan dihargai orang lain.




EMPAT POSISI KEPEDULIAN
Kepedulian selalu berhubungan dengan kehidupan atau perilaku antar pribadi. Bagaimana kita dengan diri kita sendiri, bagaimana kita dengan yang lain atau bagaimana orang lain kepada kita. Ketidak pedulian seseorang pada orang lain itu ada dua macam. Pertama, tidak peduli sebatas tidak menolong orang lain, tidak mengganggu orang lain dan tidak mau diganggu oleh orang lain. Kedua, tidak peduli pada tataran mengganggu, merusak dan mengambil hak orang lain. Ada empat kombinasi peta kepedulian kita, nah kita ada diposisi yang mana silahkan dicermati uraian singkat dibawah ini.

TIDAK PEDULI PADA DIRI SENDIRI DAN TIDAK PEDULI PADA ORANG LAIN
Pada zona atau posisi di level ini, seseorang bisa dikatakan sedang sakit. Ia tidak bermanfaat untuk siapapun. Ia tidak bisa amanah pada siapapun. Orang seperti ini akan mudah merusak dan mengusik keberadaan siapapun. Saya rugi tidak apa-apa asal orang lain juga turut rugi. Saya mati tidak apa-apa asal semuanya mati, sama-sama mati. Biasanya masyarakat awam menyebutnya orang yang frustasi. Ada beberapa indikator yang bisa dijadikan ukuran untuk melihat orang pada level ini. Pertama, lihatlah penampilan fisiknya. Cara berpakaiannya, apa yang digunakannya. Kedua, perhatikan gaya bahasanya, isi bicaranya, keramahannya. Ketiga, perhatikan perilakunya, sopan santunnya, visinya dan responnya atas setiap stimulus yang ia temukan atau hadapi. Orang yang anarkis bisa dimasukkan ke dalam kelompok level ini. 

PEDULI PADA DIRI SENDIRI DAN TIDAK PEDULI PADA ORANG LAIN
Koruptor, menyontek, menyuap, merampok, membunuh, mencuri adalah perilaku yang bisa digolongkan pada level ini. Asik dengan kehidupannya sendiri sekaligus mengabaikan pihak lain juga termasuk pada kelompok level ini. Orang yang mengerti akan kebutuhan hidupnya dan potensi dirinya dimana sebagian besar lingkungannya mengolok-olok dirinya tetapi dia tetap bertahan, juga masuk pada level ini, itulah yang biasanya disebut dengan istilah cuek is the best, cuek pada orang lain tetapi berprestasi, sehingga tidak terlalu bergantung kepada pihak lain. 

TIDAK PEDULI PADA DIRI SENDIRI DAN PEDULI PADA ORANG LAIN
Orang yang masuk dalam kelompok ini tidaklah banyak jumlahnya. Ia rela berkorban untuk orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hidupnya seperti lilin yang menyinari lingkungannya dan pada akhirnya dirinya sendiri akan lenyap. Perilaku yang seperti ini biasanya disebut altruis.

PEDULI PADA DIRI SENDIRI DAN PEDULI PADA ORANG LAIN Inilah kondisi ideal yang sangat diharapkan, dimana kita peduli pada diri sendiri tetapi sekaligus juga peduli pada orang lain. Ada beberapa model seseorang peduli pada dirinya sendiri, mulai dari merancang masa depannya, mengetahui kebutuhannya, membuat skala prioritas keinginannya, membuat visi dan misi pribadinya, mewujudkan cita-citanya, dst. Sedangkan kepedulian dengan orang lain bisa berupa serendah-rendahnya adalah rasa empati, perilaku simpatik, berupa senyuman, keramahan, sampai kepada memberikan bantuan, pertolongan, sumbangan, sedekah, dst. Kesemuanya itu merupakan puncak perilaku positif yang sangat mewarnai eksistensi seseorang. Betapa bahagianya bisa menjadi pribadi yang masuk dalam kelompok / level ini. Apabila kita masih ragu membuat peta potensi diri kita, maka kita bisa melihat cermin diri melalui psikotest atau tes kepribadian atau tes bakat finggerprint test DMI. Dengan tes tersebut kita bisa memiliki keyakinan baru dalam merancang masa depan kita. Sukses harus dipersiapkan dan diperjuangkan. Kenal bakat sejak dini lebih mudah meraih prestasi. Bakat atau potensi yang kita kenali tidak akan berarti bila tidak dikembangkan atau tidak diberi stimulasi yang memadai. Sebaliknya stimulasi apapun yang kita berikan tidak akan membuahkan hasil yang optimal bila tidak selaras dengan potensinya atau bakat alaminya. Bila bakat itu tidak penting mengapa Tuhan menciptakannya untuk kita. Mari sebelum kita bisa peduli kepada orang lain maka kita sendiri juga harus mampu peduli kepada diri sendiri. Sebelum mampu memberdayakan orang lain maka kita sendiri harus mampu memberdayakan diri kita sendiri. Sebagaimana peringatan dalam suatu penerbangan dalam pesawat bahwa dalam kondisi darurat maka masker oksigen harus dikenakan kepada orangtua terlebih dahulu baru kemudian kepada anak balitanya. Semoga kita peduli dan mampu mengukir prestasi.
 


Mengapa kita harus peduli? Bagi kebanyakan orang, bila mereka berpikir mengenai kelaparan, mereka tak harus menelusur sangat jauh sejarah keluarganya — mungkin dalam hidup mereka sendiri, atau orang tua mereka, atau kehidupan kakek nenek mereka — untuk mengingat pengalaman kelaparan. Saya jarang menemukan hadirin yang dapat menelusur jauh ke belakang tanpa pernah mengalami kelaparan. Sebagian didorong cinta kasih, merasa bahwa membantu itu mungkin salah satu perbuatan dasar sebagai manusia. Seperti yang dikatakan Gandhi, “Bagi seorang yang lapar, sepotong roti adalah wajah Tuhan.” Yang lainnya khawatir terhadap kedamaian dan keamanan, stabilitas di dunia. Kita menyaksikan pemberontakan karena makanan tahun 2008, setelah kejadian yang saya sebut ‘tsunami kelaparan yang sunyi’ menyapu bumi ketika harga pangan berlipat dua dalam semalam. Efek destabilisasi dari adanya kelaparan dikenal sepanjang sejarah manusia. Salah satu tindakan paling dasar dalam peradaban adalah memastikan orang-orang mendapat cukup makanan.

0 komentar:

Poskan Komentar